Jumat, 07 Agustus 2015

Gereja, Pernikahan, dan Ekskomunikasi

Baru-baru ini, Bapa Suci Fransiskus kembali mengeluarkan pernyataan tentang posisi Gereja atas pernikahan, terutama dalam hubungannya terkait umat beriman yang telah mengikatkan diri dalam Sakramen Pernikahan, namun kelak memilih perceraian.


Sebagai referensi dari tulisan ini, berikut saya sertakan terjemahan pribadi dari artikel yang dipublikasikan pada situs Radio Vatikan versi Bahasa Inggris (Anda dapat melihat versi aslinya di sini)

Paus: Umat beriman yang telah bercerai dan menikah kembali tidak diekskomunikasi

(Radio Vatikan) Paus Fransiskus melanjutkan sesi Audiensi Umum beliau pada hari Rabu, sebagai kelanjutan dari rangkaian Audiensi Umum selama liburan musim panas. Dalam katekesisnya, Bapa Suci melanjutkan pengajarannya atas keluarga, dengan merenungkan situasi pasangan-pasangan yang telah bercerai dan bersatu kembali dalam suatu ikatan kedua.

Kamis, 06 Agustus 2015

Legio Maria : Nama dan Asal

Tulisan ini merupakan rangkaian dari Pembahasan Buku Pegangan Legio Maria. Versi digital dari Buku Pegangan Legio Maria dapat Anda unduh di sini jika Anda belum memilikinya.

BAB I NAMA DAN ASAL

Paragraf 1
Legio Maria adalah suatu Perkumpulan umat Katolik yang, dengan restu Gereja dan bimbingan kuat Maria Tak Bernoda, Pengantara Segala Rahmat (yang indah bagai bulan, terang bagai matahari, dan dahsyat bagi setan dan kaki tangannya, bagaikan bala tentara siap tempur), telah menggabungkan diri ke dalam suatu laskar untuk bertempur dalam peperangan abadi antara Gereja melawan dunia dan kekuatan jahatnya.

Pembahasan
Jika kita cermati, bab - bab awal pada suatu buku umumnya berisikan muatan yang ringan dan tidak terlalu panjang. Namun, Buku Pegangan Legio Maria memilih untuk melakukan hal yang berbeda. Alih-alih menekankan pada sifat 'mengantarkan' kepada isi buku, bagian awal dari buku pegangan ini ingin menitikberatkan pada identitas awal Legio Maria. 

Selasa, 04 Agustus 2015

Panggilan Menjadi Prodiakon

Apabila Anda tinggal di atau pernah berkunjung ke Indonesia, teristimewa Pulau Jawa, barangkaliviaticum), memimpin Ibadat Arwah, membawakan renungan dll. Lebih lengkapnya, kewenangan dan hak seorang prodiakon diatur dalam surat keputusan Uskup setempat yang mengangkat mereka. 
Anda tidak asing lagi dengan istilah prodiakon atau asisten imam. Sebagaiman dirujuk dalam frase 'asisten imam,' para prodiakon sejatinya bukanlah seorang imam. Para prodiakon adalah selayaknya umat biasa, namun mereka dipanggil dan dipilih secara khusus untuk menjadi asisten para imam. Tugas mereka pada dasarnya adalah membantu imam dalam melaksanakan reksa pastoral. Lingkup kerja mereka sendiri adalah satu paroki tertentu, sebagaimana yang dicantumkan dalam surat keputusan pengangkatan mereka. Jadi, tergantung kepada situasi suatu paroki, tugas seorang prodiakon bisa beragam jika dibandingkan antara satu paroki dengan paroki yang lain. Namun, pada umumnya, seorang prodiakon memiliki tugas mendampingi imam untuk menerimakan Komuni Kudus kepada umat atau bahkan ia sendiri apabila imam berhalangan hadir, memimpin Ibadat apabila tidak ada imam, menerimakan Komuni Suci kepada orang sakit (viaticum)

Jumat, 26 Juni 2015

Gereja, Bejana Kehidupan

Setiap kali kita membahas tentang Gereja, kita tidak akan pernah terlepas dari tugas Gereja untuk memelihara kehidupan. Bahkan, tugas ini bisa dikatakan salah satu tugas terpenting yang diemban Gereja dari Kristus sendiri. Namun, sayangnya banyak orang yang mengaku diri mereka Katolik. Banyak orang yang mengaku diri memiliki iman kepada Kristus, tetapi memilih untuk mengabaikan tugas ini. 
Jadi apa sebenarnya yang dimaksud dengan memelihara kehidupan?

Kehidupan adalah Karunia Ilahi

Bila ada hal terindah di dunia ini setelah kasih, maka sudah pasti hal tersebut adalah kehidupan.
Terlepas dari baik buruknya seseorang, tidak dapat kita pungkiri dalam kehidupan setiap orang kita mampu melihat kebaikan dan keindahan. Dalam bahasa Gereja, kita mampu melihat dalam diri setiap orang Kristus yang hadir di sini dan pada saat ini. Karunia kehidupan berawal dari Allah. Ia adalah Cinta itu sendiri dan dengan cinta-Nya, Ia menciptakan manusia. Kita semua berasal dari Allah dan sejak awal mula kehidupan kita seharusnya dipersembahkan kepada Allah semata-mata. Tubuh kita adalah Bait Allah, dengan ini Kristus sendiri mewahyukan salah satu hal terpenting dalam hidup ini. Namun, di atas segalanya itu, kita harus menyadari bahwa setiap kali suatu kehidupan dimulai, kehidupan tersebut berasal dari nafas Allah. Setiap kali suatu kehidupan dimulai, cinta Allah hadir, bahkan dalam bentuk kehidupan yang paling sederhana sekalipun, termasuk hewan dan tumbuh-tumbuhan. Dalam kehidupan, kita melihat Allah dan Allah berkarya di dalam kita.


Rusaknya kehidupan

Seluruh kehidupan pada awal mulanya adalah baik, diciptakan dan dipersembahkan demi kemuliaan Allah sendiri. Namun, kehidupan akan dengan sendirinya kehilangan aspek keindahannya apabila tidak diiringi dengan kehendak bebas. Sungguh merupakan suatu karunia ketika manusia dikaruniai kehendak bebas, yang tidak dimiliki oleh hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Kehendak bebas memampukan manusia untuk menentukan jalan hidupnya. Apabila dilakoni dengan benar, kehendak bebas menyertakan jalan yang tepat bagi setiap insan untuk melihat bahwa dalam setiap aspek kehidupan Allah hadir dan berkarya. Namun, unsur 'bebas' dalam kehendak bebas juga memiliki potensi lain. Sebagaimana manusia diberikan otonomi sepenuhnya dalam menentukan jalan hidup mereka, manusia juga dapat memilih untuk tidak mempersembahkan hidupnya demi kemuliaan Allah dan memilih untuk hidup di jalan yang kurang baik. Setiap kali keputusan ini dibuat, kita telah memilih untuk merusak kehidupan. 
Suatu kehidupan dirusak ketika seorang insan merusak kualitas kehidupan dirinya sendiri. Rusaknya kehidupan dimulai ketika ia melakukan 'kelalaian-kelalaian kecil' yang seringkali dianggap tidak berarti, misalnya berbohong, iri hati, cemburu, diam untuk menyembunyikan kebenaran, marah, dan lain-lain. Dalam diri kita terdapat potensi kehidupan yang dipersembahkan demi kemuliaan Allah, namun dalam diri kita pula terdapat potensi kehidupan yang dirusak untuk merendahkan kemuliaan Allah.

Gereja, Bejana Kehidupan

Sebagai wujud kehadiran Kristus di dunia, Gereja berkomitmen mengerahkan segala daya dan upaya untuk memelihara kehidupan. Gereja senantiasa aktif berkarya di tengah-tengah dunia, bahkan politik untuk memelihara kehidupan. Namun, semuanya ini tidak lebih berarti dari upaya - upaya yang dilakukan Gereja untuk membina setiap insan agar setiap pilihan yang mereka buat senantiasa dipersembahkan untuk kemuliaan Allah, bukan merendahkan Allah sendiri. Inilah bakti sejati yang diimani oleh Gereja dan senantiasa diajarkan Gereja kepada setiap orang yang memilih untuk menaruh iman mereka kepada Kristus.
Dalam hidup kita, kita senantiasa dihadapkan kepada pilihan. Terlepas dari berapa banyaknya pilihan yang terlihat di hadapan kita, dengan mudah dapat kita pilah menjadi pilihan yang baik dan yang buruk. Ada beberapa contoh yang dapat kita pelajari: orangtua dapat memilih untuk mementingkan karir/urusan atau anak mereka, seorang anak dapat memilih untuk mementingkan pendidikannya atau hasrat pribadinya, seorang politisi dapat memilih untuk mementingkan urusan partainya atau masyarakat luas, seorang pegiat hukum dapat memilih untuk melihat kebenaran atau yang tampaknya terlihat sebagai kebenaran. Gereja pun senantiasa dihadapkan kepada pilihan. Seringkali pilihan yang dihadapi oleh Gereja adalah senantiasa berjalan di jalan yang telah ditetapkan Kristus atau berjalan menurut kehendak dunia. 

Pilihan untuk menolak aborsi dan hukuman mati seringkali menjadi sorotan dunia terhadap Gereja. Kecenderungan masyarakat dunia untuk memilih hal-hal yang memuaskan kepentingan diri dan kelompok mereka dibandingkan pemeliharaan kehidupan mendasari jatuhnya penilaian yang kurang baik kepada Gereja. Para orangtua seringkali dengan mudah memilih untuk melakukan aborsi terhadap bayi mereka tanpa sama sekali melihat kenyataan yang begitu indah yang dimiliki oleh setiap insan. Setiap bayi yang hadir dalam rahim seorang ibu adalah seorang malaikat kehidupan. Ia memiliki begitu banyak potensi untuk menjadi pembawa rahmat kehidupan kelak di kehidupannya. Namun, sekali lagi, Allah memberikan pilihan kepada setiap orangtua. Apakah mereka mau mengabdikan diri mereka bagi kehidupan bayi ini kelak? Apakah mereka mau dengan mudahnya menilai bahwa seorang bayi tidak lebih dari sekadar hasil hubungan seorang wanita dan pria, terlepas dari adanya rasa suka atau tidak? Apakah mereka dengan mudahnya dapat mengatakan bahwa seorang bayi dapat dikorbankan jika orangtuanya tidak siap?
Jika kita cermati, betapa Allah telah memuliakan diri-Nya lewat tindakan dan pilihan yang kita buat. Allah mengaruniakan kepada setiap insan mulia, yakni seorang ibu untuk melakukan hal yang terbaik buat bayinya. Bayi adalah seorang insan yang begitu mulia, luhur, murni, dan berpotensi untuk mengubah kehidupan setiap orang jika ia sendiri mendapatkan didikan yang benar dari kedua orangtuanya. Namun, dengan segala potensi ini, setiap bayi ditempatkan pada posisi tidak berdaya dan dalam lindungan kedua orangtuanya. Setiap bayi hanya bisa merunduk, mohon perlindungan, dan pasrah atas setiap keputusan yang dibuat orangtuanya. Marilah kita menyadari bahwa bahkan sebelum setiap bayi dilahirkan, telah terlebih dahulu ia mengajarkan kepada kita kepasrahan yang total kepada orangtuanya. Ia belum melihat orangtuanya, namun ia telah merasakan betapa besar kasih yang diberikan oleh kedua orangtuanya. Atas dasar ini, ia menyerahkan hidupnya kepada orangtuanya laksana seekor domba yang digiring ke tempat pembantaian. Mulutnya kelu dan ia pasrah.

Hukuman mati menjadi pilihan berat lain yang diambil oleh Gereja. Di saat semakin banyak komunitas dunia yang melegalkan hukuman mati terhadap tindak kejahatan berat seperti narkoba dan terorisme, Gereja memilih untuk tidak memberikan jenis hukuman ini kepada mereka yang telah melakukan kejahatan-kejahatan serius. Gereja tidak menolak pandangan atas kejahatan yang mereka lakukan, bahkan jika kejahatan itu menghilangkan nyawa ribuan, jutaan, atau bahkan miliaran orang. Gereja hanya melihat bahwa ada satu alternatif lain yang dapat berdampak positif, bahkan mendidik bagi pelaku tindak kejahatan tersebut dan korban/mereka yang terikat dalam suatu relasi dengan korban.
Dunia berasumsi bahwa tidak mungkin kita menjaga hak seorang manusia untuk hidup, dengan mengacuhkan hak orang lain untuk hidup atas dasar perbuatan yang ia telah lakukan. Lagipula, proses untuk mendapatkan hukuman mati bukanlah suatu proses yang instan. Terlebih dahulu harus dijalani proses hukum mulai dari banding, kasasi, hingga pengajuan kembali putusan yang dibuat oleh suatu mahkamah hukum tertinggi di suatu negara. Kehidupan suatu orang layak diambil apabila ia telah merenggut nyawa orang-orang lain. 
Dalam pikiran kita, kita merasa bahwa kita telah melakukan tindakan yang benar. Namun, mari sejenak kita berpikir, bahwa di saat kita memilih untuk memberikan hukuman mati, kita menempatkan diri kita sendiri sebagai pembunuh. Terlebih di atas segalanya, kita menempatkan diri kita sebagai seseorang dengan kekuatan dan pelaku tindak kejahatan tersebut sebagai seseorang tanpa daya. Jika begini, apa bedanya kita dengan pelaku tindak kriminal tersebut, seorang pembunuh, atau seorang ibu yang melakukan aborsi atas bayinya?

Saya sendiri berpendapat alangkah baiknya apabila hukuman mati diubah menjadi suatu bentuk pelayanan masyarakat dengan jangka waktu tertentu. Mungkin bentuk ini kurang sempurna sehingga saya harap dapat disempurnakan oleh pihak - pihak yang lebih berkompeten dari saya. Saya mengusulkan bahwa setiap terpidana kasus kejahatan serius dihukum dengan memberikan kehidupan bagi orang - orang lain dengan jumlah yang sama dengan potensi korban yang akan dan korban yang telah menderita akibat perbuatannya. Dengan demikian, apabila akibat perbuatannya, negara memperkirakan ia telah dan akan merusak kehidupan dari 2 juta orang, maka hukumannya ialah ia wajib bertanggungjawab atas 2 juta orang yang lain atas hidup mereka. Ia bertanggungjawab mendidik mereka untuk menjadi orang-orang yang berkualitas hidupnya, termasuk mendidik mereka untuk jauh dari narkoba dan negara wajib melakukan pengawasan. Setelah ia menunaikan tugasnya, barulah ia dapat bebas kembali. 
Pemikiran ini baru merupakan pemikiran dasar dan butuh pengembangan lebih lanjut. Namun, setidaknya pilihan yang saya buat ini tidak menghilangkan kehidupan dari pihak manapun. Bahkan, lebih baik lagi, ia memberikan kehidupan kepada sebanyak mungkin orang. Jika opsi ini diterapkan, betapa banyak kehidupan yang bisa kita jaga dan betapa tinggi penghargaan atas kehidupan yang bisa kita raih.


Semoga tulisan ini berguna buat kita sekalian.

Rabu, 17 Juni 2015

Hal Berpuasa dan Bersedekah

Tulisan kali ini merupakan renungan pribadi saya atas bacaan harian hari ini yang diambil dari penanggalan liturgi:

Bacaan Injil : Matius 6 : 1 - 6; 16- 18

Isi Bacaan    :
"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan oran gsupaya dilihat mereka,
karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu,"

"Dan apabila engkau berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu  yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.'


Renungan:
Pada hari ini, kita diingatkan kembali akan dua hal yang menjadi identitas seorang Kristiani: berpuasa dan bersedekah. Bersama-sama dengan doa, hendaknya setiap umat beriman Kristiani menjadikan hidupnya sarana untuk senantiasa berpuasa dan bersedekah. Kedua hal ini begitu mulia nilainya, namun acapkali kita salah mengartikan makna keduanya. Banyak dari kita yang menganggap bahwa berpuasa dan bersedekah terbatas pada perbuatan fisik saja. Berpuasa, misalnya, cukup diartikan sebagai (minimal) menahan lapar dan dahaga dengan makan kenyang cukup satu kali dalam satu hari. Di lain pihak, banyak dari kita juga mengartikan bersedekah sebagai menyisihkan harta yang kita miliki untuk kepentingan/membantu orang lain. Memang hal ini tidak salah, namun makna yang sesungguhnya dari berpuasa dan bersedekah jauh melebihi tindakan fisik yang terlihat itu sendiri.

Bersedekah dan berpuasa pertama-tama adalah tindakan penyangkalan diri sendiri. Keduanya dimulai dengan pengakuan kita akan hakikat kita sebagai seorang manusia: kita adalah makhluk daging dengan Roh Tuhan hidup dalam diri kita. Ini artinya, biarpun kita telah dianugerahi Allah kemurnian sejak kita lahir, kita tidak terlepas dari keinginan-keinginan duniawi yang kerapkali mengungkung diri kita dan menjauhkan kita dari Tuhan. Dalam hal ini, berpuasa dan bersedekah menjadi sarana yang sempurna untuk kembali kepada Tuhan (retret) dengan mengasingkan segala keinginan - keinginan duniawi yang melekat dalam hidup kita dan mengupayakan diri mendengarkan Allah yang bersabda dalam kehidupan kita sehari - hari. Sabda Allah ini, juga bukanlah terbatas pada bacaan yang kita dengar dalam Misa, ibadat, dan teks Kitab Suci. Sabda Allah pertama - tama kita jumpai dalam saudara - saudari, sesama kita sendiri. Tidakkah kita ingat Kristus yang bersabda, "Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (bdk. Matius 25:40).

Tidakkah kita sadari betapa banyak orang yang kehilangan kehidupan mereka hanya dikarenakan mereka tidak mendapatkan perhatian dari orang lain? Tidakkah kita sadari betapa banyak keluarga dan pasangan suami istri yang hancur hanya dikarenakan salah satu atau bahkan kedua pihak tidak mau bermatiraga dan mendengarkan pasangannya? Tidakkah kita melihat kehancuran generasi muda dimulai dari kurangnya perhatian dari keluarga teristimewa karena mereka kurang didengar oleh orang-orang yang mereka sebut sebagai keluarga?

Kualitas suatu kehidupan ditentukan oleh seberapa baiknya orang-orang memperhatikan satu sama lain. Ketika orang-orang mulai acuh tak acuh terhadap sesamanya, disitulah kehancuran kehidupan dimulai. Dengan kita berpuasa dan bersedekah, kita menyisihkan waktu untuk sesama kita yang membutuhkan, menyajikan kehidupan kepada mereka, dan senantiasa berada di sisi mereka dalam suka duka. Kehidupan inilah yang dikehendaki oleh Kristus sendiri, kehidupan saling berbagi dalam cinta, bukan yang terpaku pada tindakan-tindakan fisik yang mengesampingkan moral dan cinta kasih.

Di sisi lain, Kristus juga berpesan hal yang penting kepada setiap umat Kristiani untuk mengesampingkan pencarian pahala dari setiap perbuatan yang kita lakukan. Kita dituntut untuk berbuat kasih dan membawa perdamaian, namun jangan sekali - kali intensi ini kita campuradukkan dengan intensi pribadi kita. Jangan pernah sekalipun kita berpikir bahwa kita berbuat kebaikan untuk kepentingan kita di masa sekarang atau masa depan karena sejatinya ini bukanlah perbuatan nyata kasih. Terlepas dari apa yang Anda lakukan, mencampuradukkan niat pribadi Anda dengan berpuasa dan bersedekah hanya akan mengotori hidup Anda sendiri. 
Contoh nyata dapat kita lihat dalam kehidupan kita sehari - hari. Banyak terjadinya fenomena ketika orang menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa mereka mencintai seseorang yang padahal baru mereka temui di dunia maya. Ketika ditanya apakah itu benar cinta yang mereka rasakan, dengan penuh keyakinan mereka mengonfirmasi hal itu. Tetapi kelak di kemudian hari, ketika mereka harus terlibat dalam suatu perbedaan pendapat, mereka mulai ragu akan cinta yang dahulu mereka yakini. Keluarga - keluarga dan pasangan - pasangan mulai retak sehingga muncullah suatu perkataan yang cukup populer, "Kamu tidak seperti dahulu lagi."
Apakah ini benar cinta?

Tidak, ini sama sekali bukan cinta. "Cinta" yang banyak orang maksudkan seringkali hanya berupa hasrat sesaat, terutama akan penampilan fisik dan eksotisme sesaat. Cinta ini didasarkan pada penilaian sepenggal, tanpa melihat aspek-aspek yang lain. Cinta ini tidak didasarkan pada pengurbanan yang tulus. Cinta ini tidak didasarkan pada matiraga yang menyeluruh, penerimaan pasangan dengan seutuhnya, baik dan buruknya. Cinta tidak bisa dikecap begitu saja untuk pertama kali dan diyakini bahwa memang itulah cinta. Cinta perlu tumbuh, berakar, berbuah, dan yang paling penting ditempa. Lewat berpuasa dan berpantang, kita juga diajak untuk menempa cinta kita kepada Kristus melalui sesama. Cinta yang penuh pengurbanan kelak akan berbuah dalam kehidupan. 

Apakah buah cinta?
Keharmonisan, kasih sayang, pengertian, penerimaan apa adanya, bakti sejati, kemurahan hati, pengurbanan, keikhlasan, pengampunan, dan masih banyak yang lainnya.

Pertanyaannya sekarang bagi kita ialah: maukah kita berbagi waktu untuk bersedekah dan berpuasa? Maukah kita menyediakan waktu untuk hidup menempa dan ditempa dalam cinta? Maukah kita berkurban bukan untuk diri kita, tetapi untuk Tuhan dan sesama?
Jawabannya terletak di hati sanubari kita masing - masing.


Di akhir tulisan ini, saya juga ingin menyampaikan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa bagi saudara-saudariku umat Islam. Kiranya Tuhan menyampaikan rahmat kepada Anda semua dalam cinta dan kiranya Anda sekalian menjadi saksi cinta Tuhan di dunia.

Amin.
Totus Tuus